Jumat, 01 Juni 2012

Melihat dari dekat Kehidupan Si Penggali Kuburannya Sendiri

DENGAN hanya beralaskan plastik tenda,para penambang emas itu terlelap melingkari lubang,tempat mereka mencari batu-batu yang mengandung emas di siang hari.
Sudah hampir 7 bulan mereka meninggalkan keluarganya di seberang pulau sana,datang ketambang dengan alasan klasik memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Lubang yang mereka gali hanya dengan menggunakan peralatan sederhana tersebut dalamnya hampir 22 meter,menjorok kebawah seperti sumur air yang biasa kita lihat dirumah,bedanya kalo sumur air hanya cukup di gali secara vertikal lurus keatas,nah lubang emas ini diteruskan secara horizontal untuk menemukan jalur batu yang di yakini mengandung emas.
1337258739649546174
lokasi tambang emas poboya
Ngeri dan berani menurut saya,bertaruh maut seperti menggali kuburan untuk dirinya sendiri,bagaimana tidak dengan keamanan yang tidak terjamin mereka memasuki lubang tersebut,dan tidak sedikit mereka meregang nyawa tertimbun tanah ketika ada terjadi lonsor.
Capek dan susah memang mencari uang itu,mereka berpendapat lebih baik hidup dengan cara begini daripada saya mencuri atau merampok untuk menafkahi keluarga.
Mereka memasuki lubang tidak mengenal waktu,kadang siang terkadang malam,selama merasa mempu terus digenjot demi mendapatkan apa yang jadi mereka impikan.
Kalau istirahat,terpaksa mereka harus tidur di atas lubang,demi menjaga dari orang-orang diluar kelompok mereka yang hendak memasuki lubang tersebut,tentunya mencari batu juga.
Apalagi kalau diketahui,bahwa batu-batu tersebut mengandung emas yang lumayan bagus,tidak sedikit orang-orang yang bersikap mau enak sendiri,tidak ikut menggali lubang nekat mau memasukinya,baik secara sembunyi-sembunyi atau istilahnya ‘kalikit’,atau terang-terangan sampai terjadi perkelahian memperebutkan lubang.
Kini mereka telah istirahat setelah seharian bekerja,mimpi indah membayang anak dan istri mereka setia menunggu di rumahnya yang jauh diseberang pulau,mengharapkan ayah dan suaminya pulang dengan selamat.
Foto Dok Pribadi

( Masih Ada ) Aturan Rasis Dalam Perjodohan

LUCU ya,di zaman internet kaya sekarang masih berlaku aturan rasis dalam perjodohan..
Hanya karena alasan latar belakang budaya ditambah perbedaan warna kulit,seseorang bisa terhambat akan jodohnya,malahan bisa mendatangkankan bencana berupa sangsi hukum yang lumayan berat.
Sebut saja namanya anton(nama samaran),sehari-hari dia bekerja sebagai pegawai di intansi pemerintahan di kota A,dia seorang pendatang dari pulau sebrang,yang kebetulan mendapatkan penempatan pertama kerja di kota tersebut.
Waktu itu dia masih berstatus bujangan,memang berat menyandang status itu diperantauan,apalagi sudah mempunyai pekerjaan tetap,dan bisa dibilang mapan lah.
Karena didikan orang tua nya yang keras dikampung terhadap agamanya dia berusaha menghindari hal-hal yang dilarang agamanya selama dikampung orang.
Lama di kampung orang dan sebagai lelaki normal yang takut akan godaan,maka ia pun memutuskan menikah sebagi pencegah akan perbuatan yang tidak senonoh.
Maka di menjatuhkan pilihannya kepada zahra,gadis cantik keturunan yang rumahnya tidak jauh dari kontrakanya,tempat anton tinggal selama ini.
Pucuk dicinta ulampun tiba,anton ngebet,zahra pun menyambut..
Setelah saling mengenal,anton pun memutuskan untuk melamar gadis idamannya.
Setelah kedua orang tuanya di kampung merestui akan niat anton untuk melamar itu gadis,maka ia pun berangkat kerumah zahra ditemani rekan-rakan satu kantornya.
Setelah tiba di kediaman zahra,ternyata bukan sambutan meriah dan hangat yang diterima rombongan anton,hanya sikap dingin dan ketus yang disuguhkan pihak keluarga zahra.
Waktu itu anton sempat berpikir hal itu cuma ‘tantangan’ akan keseriusannya untuk meminang zahra,tapi ternyata sikap dari pihak keluarga zahra tidak main-main,mereka terutama ibu zahra menolak lamaran anton tanpa mengetahui alasannya.
Akhirnya dengan lunglai seperti tentara yang kalah perang anton dan rekannya meninggalkan rumah zahra.
Setelah sampai dirumah dia merenungkan kejadian yang baru saja dialaminya,kemudian dia menghubungi zahra,dia mengatakan bahwa alasan keluarganya menolak karena dia tidak satu adat dengan anton,sudah banyak terjadi hal seperti itu dikeluarganya,bahkan kakak perempuannya memilih kawin lari setelah dinikahkan bapaknya yang sudah berpikiran moderat,karena ibunya tidak setuju dengan alasannya sama,beda warna kulit dan tidak satu adat,tetapi kakanya pun nasibnya seperti seakan-akan dibuang dari keluarga besarnya,zahra pun menambahkan kalau memang anton serius silahkan temui bapaknya untuk memohon supaya dinikahkan.
Seperti mendapat lampu hijau,dengan tekad membara,maka keseriusan antopun dilaksanakan dengan menemui bapaknya zahra seperti saran yang diberikan zahra tadi,
alhamdulillah dengan tanpa sepengetahuan ibunya zahra, bapaknya bersedia menikahkan mereka berdua,karena dalam agama islam cukup bapaknya saja sebagai wali sudah sah mereka berdua menjadi suami istri.
Ternyata ini bukan klimaks dari cerita cinta anton dan zahra,hanya beselang beberapa minggu,ada laporan tuntutan dari ibunya zahra ke kantor tempatnya anton bekerja,sehingga ia di tegur oleh atasan anton,tidak cukup sampai disitu dia dituntut akan pasal penculikan anak karena zahra waktu itu masih berumaur di bawah 21 tahun,sehingga ia pun harus berurusan di kantor polisi,sedangkan nasib zahra sama seperti kakak permpuannya,dibuang dari keluarga besarnya bahkan semua surat-surat penting seperti ijazah,akte,dan surat pekerjaanya dibakar oleh ibunya.

Ketika Dia Pulang,Kampungnya telah Menjadi Lautan Lumpur

LIMA tahun lalu saya mempunyai teman yang berasal dari Porong sidoarjo,dia seorang polisi yang berdinas di Kabupaten Poso.
Teman saya itu berdasarkan ceritanya mendaftar Polisi di Surabaya,dan mendapatkan penempatan pertama di kabupaten Poso sejak Tahun 2001.
Awalnya dia merasa sedih harus meninggalkan keluarganya ke pulau yang jauh,tapi namanya tugas mau di apa,dia harus siap ditempatkan di tempat dimana merah putih berkibar,yang penting dia masih bisa mengajukan permohonan mutasi pindah ke daerah asal,apabila sudah melewati masa ikatan dinas,selama tiga tahun.
Nah di akhir tahun 2005 ,merasa ikatan dinasnya sudah berakhir,dia mengajukan permohonan mutasi kepada atasannya,setelah menghadap pimpinannya, alhamdulillah permohonannya di acc,tinggal menunggu surat keputusan dari pusat,yang biasanya agak sedikit lama,biasa sampai 1 tahun setelah pengajuan baru turun katanya.
Disaat sedang menanti turunnya surat kepindahan,tiba-tiba di kampungnya terjadi semburan lumpur yang kemudian hari dikenal lumpur lapindo,yang banyak menenggelamkan rumah-rumah dan fasilitas lainnya.
Apes bagi teman saya itu,dia mendapat kabar bahwa rumah orang tuanya pun ikut tenggelam,
sehingga kedua orang tuanya sementara waktu ikut menumpang kepada keluarga yang tidak terkena musibah.
Sedih sekali teman saya ketika itu,disaat dia berencana pindah ke kampung tempat kelahirannya,ternyata malah tenggelam.
Di bulan agustus tahun 2006,surat keputusan kepindahan dia ke kampunya telah turun dari pusat,gembira bercampur sedih dia menyambut kabar itu.
Gembira karena dia sebentar lagi akan berkumpul dengan keluargannya,tapi sedih dia merasa tidak bisa melihat kampungnya lagi seperti sewaktu di tinggalkan karena sudah tenggelam.
Setelah mempersiapkan semuanya dia pamitan kepada rekan-rekan seprofesinya,tanpa mengabarkan kepada keluarganya di kampung akan kepulangannya,dengan maksud memberi kejutan,dia terbang dari pulau sulawesi menuju kampungnya.
Ketika sampai dia langsung menuju tempat orang tuanya menumpang,setelah bertemu dia peluk bahagia kedua orang tuanya,dan mengatakan bahwa dia telah pindah kembali berkumpul bersama mereka.
Tapi sungguh diluar dugaan,ternyata kedua orang tuanya telah ikut program Transmigrasi bagi korban bencana Lumpur lapindo ke pulau Sulawesi,dan akan berangkat tiga hari lagi.
Mengetahui bahwa kedua orang tua nya akan ikut Trasmigasi ke pulau tempat sebelumnya bertugas,dia sungguh saat terpukul batinya,setengah mati dia mengurus pindah untuk berkumpul kembali dengan kedua orang tuanya,dia harus menghadapi kenyataan dan merelakan kedua orang tuanya yang malah berencana meninggalkan kampungnya.
” mau di apa lagi le,kita sudah ndak punya apa2 lagi disini,mau numpang sama pak dek mu ndak mungkin,malu bapak…..” lirih papanya kepada teman saya itu.
“…..tapi pak saya harus bagaimana,susah loh saya harus ngurus pindah lagi,ikut bapak kesana…..”.

Hati-hati Memasang Nomor Handphone di Iklan

SUNGGUH ini adalah pengalaman yang sangat menjengkelkan,bagaimana tidak,ketika saya sedang terdesak dan berusaha serius untuk mendapatkan dana dengan jalan menjual rumah,malah ada seseorang (entah beberapa orang) berbuat jahil berpura-pura berminat akan membeli rumah.
Berawal ketika saya memasang iklan di situs jual/beli online,untuk menawarkan rumah,karena menurut saya,memasang iklan disitu selain hemat,gratis pula,tidak dipungut biaya sepeser pun,tapi tetap harus memenuhi syarat dan ketentuan yang diminta.
Setelah mengisi ‘formulir’ dan mendeskripsikan rumah tentunya lengkap dengan memasang nomor hanphone yang bisa dihubungi calon pembeli apabila tertarik,iklan saya pun sudah muncul di halaman barang-barang yang ditawarkan.
Esok harinya saya mulai mendapat sms, dengan isi :
Saya Ibu xxxxxx
mengenai Rumah Bapak/Ibu yang mau dijual,sudah saya survei dan saya berminat.
Mengenai harga,silahkan hubungi suami saya Bapak xxxxxxx
no telepon 08xxxxxxxxxx
Terima kasih.
Dengan perasaan bahagia,langsung saya hubungi nomor yang mengirim sms tadi,tapi tidak diangkat,saya berpikir mungkin lagi sibuk,lalu saya coba hubungi juga nomor Bapak yang diberikan lewat sms,
alhamdulillah diangkat,setelah itu saya membuka pembicaraan mengenai sms yang dikirim istrinya,ternyata bapak itu tidak tahu menahu,dan menjelaskan bahwa ia tidak mempunyai istri yang bernama itu,terus menutup telepon saya dengan ketus.
Karena kaget saya hanya bisa legowo,dan berpikir wajar orang iseng.
Akan tetapi esok harinya saya malah mendapat sms seperti itu lagi sampai puluhan pesan,isi pesannya sama persis,hanya nomor hanphone pengirim pesan dan yang dihubungi berbeda,dan itu terjadi sampai beberapa hari setelah pemasangan iklan,saya pun meresponnya dengan tidak menghiraukannya,hanya buang-buang waktu pikir saya,toh akhirnya mereka pun bosan sendiri dan berhenti mengirim sms lagi.
Jujur saya tidak tau apa motif mereka,toh kalau hanya satu orang dengan niat iseng,kenapa sampai bisa mengirim puluhan pesan dengan nomor yang berbeda-beda?

Orang Sunda Juga Harus Bisa

SUKU sunda adalah penduduk yang mendiami bagian barat pulau jawa,menurut wikipedia dengan komposisi sekitar 33 juta orang menjadikan suku sunda sebagai suku kedua terbesar di negara Republik Indonesia setelah Suku jawa.
Akan tetapi suku sunda sebagian besar hanya terkonsentrasi di provinsi jawa barat dan Provinsi Banten saja.
Tidak menyebar seperti saudaranya suku jawa,terkesan betah di wilayah,padahal sebagai umat islam,agama yang dianut sebagian besar suku sunda,Rasululloh SAW pun mencontohkan Hijrah demi kemaslahatan.
Bahkan Imam Syfi’i pernah berkata berkata bahwa orang yang hanya diam ditempat ibarat air yang tergenang,dan tidak mengalir,berikutnya akan menjadi sarang berbagai sumber penyakit.
Ibu saya pun ketika kecil sering memberi nasihat,bahwa hidup itu jangan seperti kumpulan pohon pisang,apabila anak pohon pisang tidak dipisahkan dan di biarkan berkumpul dengan puhon utamanya,maka hasilnya buahnya agak sedikit kecil,terus pohonnya akan kurus.beda apabila diliarkan anaknya,pohonnya akan bagus dan gemuk,hasil pohonnya pun akan bagus seperti yang diharapkan.
Begitu pula manusia,apabila hanya diam diri,santai di kampung sendiri dengan menganggur,pasti pikiran itu jadi lain-lain,kehidupan tidak bisa maju,apalagi lapangan pekerjaan di Jawa Barat semakin sempit,sedangkan lonjakan penduduk semakin banyak.
Di Indonesia bagian Timur nama suku sunda itu kurang begitu terkenal,bahkan terkesan disamakan dengan suku jawa.
Bahkan apabila ada yang mengetahui sedikit keberadaan tentang suku sunda,terkadang sering memberikan pertanyaan dengan kata jawa mana? Jawa sunda?.
Apabila saya menjawab bahwa suku sunda itu berbeda dengan suku jawa (dengan maksud bukan bersikap Chauvinisme atau Primodialisme) kadang saya dikatakan bahwa saya itu sombong,sama-sama dari pulau jawa kok tidak mau di bilang orang jawa.
Ya memang saya berasal dari pulau jawa,tapi di pulau jawa itu kan ada beberap etnis yang menghuninya,sebut saja ada suku betawi,suku sunda dan suku baduy tidak melulu suku jawa,karena penyebutan itu mungkin sedikit rancu merujuk ke nama suku dan nama pulau.
Lah kalau kami orang sunda sombong,dengan tidak mau disebut orang jawa,buktinya apabila di di perantauan khususnya daerah Transmigrasi, orang sunda pasti bergabung dengan orang jawa,bahkan berbudaya dan menguasai bahasa jawa,sehingga hilang identitas kesundaanya,saya sendiripun banyak bersahabat dengan orang jawa,dan sedikit menguasai bahasa jawa,kami hanya sedikit berkata jujur dan mengenalkan tentang asal usul kami.
Coba anda jalan-jalan ke daerah Transmigrasi di Provinsi Sulawesi tengah seperti,daerah Buol,morowali,moutong,dan luwuk,anda akan menemukan orang-orang dengan nama asep,jajang,dadang,cecep tapi berbahasa jawa.
Menurut para orang tua di sana,ini bermula di tahun tujuh puluhan,ketika pemerintah mencanangkan program Transmigrasi,sebagian orang-orang dari Provinsi Jawa barat,Jawa tengah,DI Yogyakarta,Jawa timur,Bali,NTB dan NTT,di kirim ke sulawesi mengikuti program tersebut.
Setelah terdaftar dan diberangkatkan,begitu tiba pemerintah telah menyediakan,rumah,laha,hewan ternak serta tunjangan hidup selama satu tahun.jumlah komposisi masing-masin provinsi semuanya sama,tidak ada yang mayoritas.dan ditempatkan berkelompok menurut asal provinsi asal pengiriman.
Nah menurut cerita orang-orang disana,ketika tunjangan hidup selama satu tahun yang diberikan oleh pemerintah telah habis,sebagian besar para tranmigran dari provinsi Jawa barat,banyak yang kembali pulang ke kampung asalnya,hanya sedikit yang bertahan.
Karena itulah yang sedikit orang sunda yang bertahan itu akhirnya berbaur dengan orang jawa,bisa ditebak budaya dan bahasa yang sedikit itupun kalah oleh budaya dan bahasa yang besar jumlahnya.
Generasi pertama masih bisa menggunakan bahasa sunda,akan tetapi generasi berikutnya agak sedikit lupa bahkan ada yang tidak bisa berbahasa sunda sama sekali,mereka lebih pasih dan lancar berbahasa jawa.
Anda mungkin tahu juga bahwa orang jawa di suriname pun,ada orang sunda,batak dan madura yang ikut ke suriname,tetapi keturunannya menjadi orang jawa semua.
Mungkin anda pernah dengar nama Iding Soemita politikus suriname,kelahiran Priangan dengan anaknya Willy Soemita,dari nama dan kelahiran kita sudah tahu asal usul mereka berdua.
Mohon maaf saya menulis dengan melantur,saya hanya cemas akan kemiskinan di provinsi Jawa Barat,yang ditayangkan di Televisi,seperti yang hidup di daerah lumbung padi Karawang,tetapi ironisnya masih ada yang makan dedak.
Mari kita bangun dan berbenah diri memperbaiki kehidupan,jangan ketinggalan karena indonesia itu luas.

Bapak Berpangkat Bunga Satu Itu Telah Pindah..

SOSOKNYA bersahaja dan sederhana,selain dekat dengan anak buahnya beliau juga dekat dengan Masyarakat yang berada di wilayah hukumnya.
Komisaris Polisi Sutrisno nama lengkap beliau,setiap ada huru hara diwilayah Kota Palu pasti ada kehadiran beliau,tidak peduli siang,malam,bahkan dini hari beliau selalu setia menemani anak buahnya ketika bertugas.
Sebagai Kepala Bagian Oprasional Polres Palu,beliau pun tidak canggung makan nasi bungkus dengan lauk seadanya bersama anak buahnya entah di pinggir jalan bahkan di sawah-sawah ketika bertugas.
Sosok pemimpin yang tegas layaknya petir,ketika mengahadapi gerombolan pengacau,tetapi bisa teduh menyejukan seperti awan ketika mangayomi,melindungi,dan melayani masyarakat,adalah tipe pimpinan yang selalu konsisten hadir langsung meminpin langsung para anak buahnya ketika bertugas,tidak mau menjadi PANGKODAMAR (panglima komando dalam kamar) yang hanya cukup meminta laporan dari dalam kamar,tanpa melihat perkembangan situasi.
Disela-sela istirahatnya,beliau selalu menyempatkan diri untuk berkomunikasi baik dengan anak buahnya maupun masyarakatnya,untuk mengetahui kelu kesah yang dirasakan mereka.
Tetapi sore kemarin saya mendapat pesan singkat dari beliau bahwa beliau akan dipindahkan dari kota ini,tadi pun ada masyarakan beceloteh di pasar bahwa bapak yang sering ngobrol di warung nasi kuning tiap pagi yang berpangkat bunga satu itu telah pindah tugas..

Semua Suku di Sulawesi Tengah itu Bersaudara

SULAWESI TENGAH adalah provinsi yang kaya akan sumber daya alamnya,berbagai jenis aneka tambang tekandung di bumi tadulako ini,kesuburan tanahnya menjadikan provinsi sebagai salah satu penghasil Kakao yang terbesar di indonesia.
Akan tetapi Konflik Horizontal dan Verikal sepertinya akrab di provinsi ini,mulai dari masalah benturan SARA hingga Masalah sosial dengan pemerintah sering terjadi.
Masalah paling santer adalah masalah tawuran antar kampung di kota Palu,yang berlarut-larut dan seakan menjadi tren,padahal semua yang bertikai masih satu keluarga,satu suku,dan satu bahasa,tapi mereka sanggup untuk saling membunuh dan merusak fasilitas masing-masing.
Tidak ada perbedaan diantara meraka mulai dari karakter,adat,mereka sama,bahasa yang digunakan pun sama. Bahasa kaili adalah bahasa yang yang digunakan oleh penduduk asli sulawesi tengah yaitu suku kaili.
Suku kaili mendiami wilayah kabupaten Donggala,Kota palu,Kabupaten Parimo,pesisir pantai Kabupaten poso dan kabupaten Touna di provinsi sulawesi tengah.
Bahasa kaili mempunyai dialek sub suku yang beraneka ragam,seperti Ledo,Tara,Unde,Doi,Rai,Da’a,dll.yang semua artinya apabaila di bahasa indonesiakan mengandung arti “TIDAK”.
Uniknya terkadang ada dua kampung yang saling bertetangga dekat,bisa berbeda identitas Sub sukunya,seperti contoh kelurahan Mamboro Dengan kelurahan Talise,di mamboro warga aslinya mengaku sebagai orang Kaili Rai,sedangkan di Talise mengaku Tara,padahal jarak kedua kelurahan tersebut hanya 1 kilometeran.
Makanya apabila seorang pendatang seperti saya telah menguasai bahasa di tempat kampungnya tinggal,meskipun sama-sama bahasa kaili,belum tentu saya di katakan pintar apabila saya jalan-jalan ke kampung yang lain.karena jelas ada perbedaan dialek,itu pendapat mereka.
Akan tetapi menurut saya tidak ada perbedaan mencolok seperti halnya Bahasa Sunda dan Bahasa Batak,semua dialek Bahasa Kaili itu menurut saya sama,yang membedakan hanya pengucapan Kata ‘Tidak’ tadi,selebihnya podo wae.
Apalagi pengkotak-kotakan sub suku itu,di lakukan pertama oleh pemerintah kolonial belanda,yang maksud dan tujuannya sudah jelas kita tahu semua,untuk mencegah persatuan bangsa kita.
Malah saya yakin,dengan suku Pamona di Kabupaten Poso dan Suku Kulawi di Kabupaten Sigi pun,suku kaili itu sama asal usulnya.
Coba kita bandingkan bahasa Pamona dan Bahasa Kaili pasti ada kesamaan yang sangat jelas.saya beri contoh :
Bahasa Indonesia : aku cinta padamu
Bahasa Pamona : kupokono siko
Bahasa kaili : kupokono komiu
Bahasa indonesia : berapa
Bahasa pamona : sangkuja
Bahasa kaili : sanguya
Bahasa Indonesia : Tikus,anjing,kucing
Bahasa pamona : walesu,asu,garu
Bahasa Kaili : walesu,asu,taveve.
Itu sebagian contoh kecil kesamaan bahasa antara Pamona
dengan bahasa kaili,masih banyak lagi,apabila anda ada yang mengetahui silahkan anda tambahkan.
Kalau dengan bahasa kulawi saya hanya mengetahui sebagian kecil,perbedaan bahasa kaili dan kulawi hanya terletak dalam pengucapan hurufnya,seperti contoh.
Bahasa Indonesia : siapa nama kamu?
Bahasa Kaili : sema sangamu ?
Bahasa Kulawi : Henga hangamu?
Bahasa Indonesia : paman
Bahasa Kaili : Mangge
Bahasa Kulawi : Mangke
Unik bukan? Saya merasa yakin semua suku-suku di sulawesi tengah ini bersaudara,kalau dilihat dari bahasanya saya juga yakin kalau mereka satu asal-usul.jadi tidak usah karena alasan perbedaan bisa terjadi perbedaan,torang semua bersaudara.
Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam beropini,karena saya bukan ahli antropologi atau etimologi,saya hanya menulis berdasarkan pengalaman yang saya alami.