Sabtu, 26 Oktober 2013

Alex Da Silva, Sahabatku Dari Timur Indonesia

Beberapa warga trans asal NTT bersama penulis di kab Buol.
” Mari jow Eja, sebentar sore Bastrom torang!!”
” Oke Eja, so pusing juga ini kepala, tiga hari nyanda makan Gabus, nanti saya jemput ke Pos heh? “
Alex adalah warga transmigran asal pulau Timor, sejak tahun 1994 dia dan keluarganya meninggalkan pulau kelahiranya untuk menetap di kabupaten Buol. Wajahnya yang khas mestizo ditambah nama belakangnya ada marga Portugis yaitu Da Silva membuat saya yakin kalau dia itu asal usulnya merupakan pernakan Portugis.
Tidak mengherankan memang, bahwa Indonesia bagian timur merupakan daerah yang kental pengaruh budaya negara semenanjung Iberia tersebut. Postur tubuh yang atletis, hidung mancung, ditambah gaya bicara yang sedikit meledak-ledak merupakn ciri kebudayaan mereka. Tapi salutnya mereka bersikap terbukan dan mempunyai rasa kesetiakawanan yang tinggi, tak peduli temanya berlatar belakang berebda, selama itu kawannya pasti mereka setia. Itu merupakan pengalaman pribadi saya hidup di komunitas Alex selama enam bulan. Memang jangka waktu tersebut bagi sebagian orang mungkin belum cukup untuk mendalami karakter seseorang apalagi komunitas. Tapi kedekatan dengan mereka yang bisa dikatakan sampai makan, tidur dan bermain di sana, cukup bagi saya mengetahui apa, bagaimana dan siapa mereka.
Kenyataanya, mereka tidak seperti yang digambarkan media selama ini, terutama kehidupan mereka di Jakarta, yang berkarakter preman, sangar dan senang membuat onar. Jangan menilai dari salah satu oknum saja, karena berkulit seram dan hitam kita tidak boleh asal mencap negatif kepada mereka. Kenyataanya, mereka itu baik bahkan menghormati saya sebagai seorang muslim yang tinggal bersama mereka. Tidak ada suasanan pengkotak-kotakan yang ditunjukan oleh mereka kepada saya sebagai pendatang dan Aparat Keamanan yang bertugas disana. Bahkan mereka tidak segan memanggil saya dengan sebutan ” EJA ” panggilan kesayangan dikalangan mereka yang artinya kurang lebih adalah “IPAR”, sedikit lucu juga awalnya mereka memanggil saya seperti itu, dalam benak saya, kapan saya menikahi saudaranya, hehehe. Ternyata memang sudah itu panggilan yang lebih mengakrabkan persahabatan kita.

Jumat, 25 Oktober 2013

Mengenal Senapan Serbu Buatan Anak Negeri



Militer dan Kepolisian Negara Indonesia cukup berbangga karena rata-rata inventaris senapan serbu tiap personil adalah nyata buatan anak bangsa sendiri. Untuk urusan ini, negara kita bisa dikatakan mandiri, tidak tergantung harus mengimpor dari negara lain.
Adalah SS 1 ( Senapan Serbu 1 ), senjata laras panjang yang diproduksi oleh PT PINDAD berdasarkan lisensi dari perusahaan senjata Belgia Fabrique Nationale.
Amunisi yang digunakan senjata ini adalah kaliber 5.56 x 45 mm standar NATO dan memiliki berat kosong 4,01 kg.
Senapan standar TNI dan POLRI ini telah teruji keampuhannya di medan pertempuran sebenarnya di dalam negeri seperti Aceh,Papua dan Timor timur. Ketika penugasan keluar negeri sebagai kontingen PBB seperti Lebanon dan Sudan, TNI dan POLRI tidak lupa pula membawa senjata ini.
Banyak orang tidak menyadari bahwa SS1 tak kalah hebatnya dibandingkan dengan senjata buatan luar negeri. Kemampuanya sudah teruji dalam berbagai event-event kejuaraan menembak internasional dengan menyabet juara umum.
SS1 terkenal dengan akurasinya yang tinggi, apabila dibandingkan dengan AK 47 buatan Rusia.
Namun kelemahannya adalah daya tahannya masih dibawah AK 47 tapi diatas M16 buatan Amerika serikat.
Banyak negara yang mengakui dan minatnya akan senapan tersebut, seperti Fhilipina dan Mali. Tapi sikap yang berbalik terhadap petinggi TNI yang suka sekali membeli perlengkapanya dari luar.
Tidak benar bila ada yang mengatakan bahwa SS1 larasnya mudah sekali melengkungatau bengkok bila senjata ini ditembakan secara terus menerus. Karena kenyataan dilapangan tidak ada bahkan tidak ditemukan fakta yang mendukung isyu dan ungkapan tersebut. Hanya saja senapan ini terkadang mengalami masalah ” cut ” atau macet ketika hendak ditembakan memakai amunisi hampa. Akan tetapi masalah ini terletak pada peluru hampa tersebut yang mengalami kerusakan seperti sudah mekar ujung amunisinya. SS1 mempunyai pilihan tembakan manual, satu kali tarik pelatuk satu peluru keluar. Otomatis satu kali tarik dua peluru serta tembakan rentetan layaknya senjata mesin.
Senjata ini sangat cocok digunakan dalam perang konvensional lapangan terbuka seperti di hutan belantara karena memang didesain layaknya karakter strategi perang Tentara kita yaitu Gerilya lawan gerilya.
Sayangnya agak terasa kurang pas apabila digunakan dalam tekhnik pertempuran jarak dekat ( PJD ) seperti perang kota atau dalam suatu ruangan seperti pembebasan sandera oleh Unit teror karena senjata ini mempunya laras dengan panjang 178 mm. Akan sangat berat dan kurang lincah apabila digunakan ketika PJD yang membutuhkan kecepatan serta reaksi ketika hendak menembak lawan. Biasanya pasukan teror Indonesia menggunakan SS2-V5 yang merupakan generasi kedua dari SS1 untuk senjata standarnya. Dengan laras lebih pendek serta lebih ringan dan diklaim memiliki desain lebih ergonomis serta akurasi lebih baik menjadikan SS2 sangat cocok digunakan ketika pertempuran jarak dekat.
Berikut ini adalah beberapa varian SS1.
- SS1 - V1. Adalah varian dasar bagi SS1. Laras standar dengan popor lipat.
- SS1 - V2. Varian pendek dari SS1, larasnya diperpendek.
- SS1 - V3, Varian standar dengan popor tetap.
- SS1-V4, serupa dengan varian V1 ditambah dengan teleskop.
- SS1 V5- Varian terkecil dari semua varian, dengan laras 252mm dan berat 3,37 kg dengan popor lipat. Dirancang untuk tekhnisi, kru tank, pasukan garis belakang dan pasukan khusus.
- SS1 - R5 Raiders - sub varian V5 yang dirancang khusus untuk pasukan khusus terbaru TNI Raiders.
- SS1 Seri M . Dibuat khusus untuk Krops Marinir, dengan proses pengecatan special untuk menahan air laut dan tidak mudah berkarat. Varian ini dirancang khusus untuk tetap dapat digunakan setelah masuk lumpur dan pasir.
- Sabhara V1-V2. Pengembangan varian ini dikhususkan untuk kepolisian. Yaitu perlunya kemampuan melumpuhkan bukan membunuh. Varian ini menggunaka peluru 7,62 x 45 mm PT PINDAD.
Dari berbagai sumber.

Pertempuran jarak dekat

Sampai detik ini, pertempuran yang paling mengerikan di muka bumi ini tiada lain adalah pertempuran jarak dekat ( PJD).
Alasanya. Dalam PJD, seorang Prajurit tidak mempunyai kesempatan untuk bersantai-bersantai ketika kontak senjata terjadi. Unsur kecepatan, kekerasan, dan kejutan menjadi modal utama untuk meminimalisir korban ketika PJD berlangsung. Dalam pertempuran konvensional ( biasanya terjadi dilapangan terbuka ) kita bisa menyaksikan seorang prajurit tiarap, tidur-tiduran ayam bahkan minum kopi dan merokok seperti yang sering kita saksikan di film Holywood. Dalam PJD yang terjadi dalam ruangan sempit, seorang prajurit hanya bisa berlindung, berlari kemudian menembak dengan cepat.
Jangan harap anda bisa membidik lawan secara sistematis untuk menentukan sasaran. Prajurit dituntut menembak reaksi dengan cepat. Siapa duluan menembak dia yang selamat.
Contoh pertempuran PJD salah satunya pembebasan korban yang disandera teroris. Biasanya terjadi didalam pesawat, kereta ataupun gedung.

Gambarlah Poso dengan Sebaik-baiknya

Memang tepat nasihat Abah di kampung. Bahwa kalau menilai seseorang tidak cukup dari kulit luarnya saja. Ibarat filusufi buah Durian, nampak tajam dan berduri dari luar, tapi alangkah sungguh nikmat serta lezat apabila sudah dibuka dan dinikmati isi durian tersebut. Begitu sebaliknya buah kedondong, permukaan kulit yang halus nampak dari luar, tapi hati-hati dengan biji berduri didalamnya.
Situasi diatas tersebutlah yang melanda sebagian petugas kepolisian di kabupaten Poso. Terlanjur dengan labelisasi karakter orang Poso yang digambarkan keras serta kurang ramah, membuat sebagian anggota Polri disana menjaga jarak dengan masyarakat. Selain itu latar belakang budaya yang berbeda membuatnya ada jurang ketidakcocokan yang tidak mendasar.
Jelas ini salah bagi sebagian anggota polri yang telah dibekali program pemolisian masyarakat.  Jangan harap bisa merangkul atau mengembangkan fungsi tribrata tanpa bisa terjun jauh di suatu komunitas. Ini bisa berakibat fatal, pengambaran karakter yang salah, menyebabkan masalah terorisme yang terjadi di Poso akan sulit diselesaikan.
Sederhanya tak kenal maka tak sayang. Sebagai pelayan pelindung pengayom masyarakat, hubungan Polri dan Masyarakat ibarat Pelayan dengan yang dilayani. Jadi sungguh tak elok apabila seorang pelayan, bersikap apatis terhadap tuanya.
Sering kita membaca, bagaimana Prajurit Kodam Siliwang bisa “harum” dan membawa kemenangan di tempat tugasnya. Bukan kerena sifat arogan dan ketegasanya, tapi karena mental teritorial serta pembinaan yang dimiliki setiap prajurit Siliwangi.
Memang, tidak semua Anggota Polri di Poso bersikap menjaga jarak dengan masyarakat dengan alasan tersediri, karena banyak pula Anggota Polri yang berlatar belakang dari luar daerah Poso sangat disayangi warga disekitar tempat tinggalnya, tentunya ini menunjukan keberhasilan dia mengayomi, melayangi dan melindungi orang-orang disekitar itu. Biasanya, masalah apatis terhadap lingkungan menjangkit kepada anggota Polri yang baru saja menjalani tugas sebagai polisi, ditambah termakan pencitraan kota Poso sendiri yang dilanda konflik berlarut-larut.
Semoga POLRI semakin jaya.

“Leluhur Saya Belajar Menambang Emas Dari Orang Sunda.”

Akhir-akhir ini, kita sering mendengar banyak ditemukan tambang emas yang dikelola oleh rakyat ( baca : cara tradisional ) hampir diseluruh pelosok Nusantara.
Meskipun menambang logam mulia dengan cara manual seperti itu mengandung resiko yang tidak kecil, baik untuk manusia atau lingkunganya. Toh tetap saja, akibat dan tantangan yang demikian besar itu tidak menjadi soal apabila dibandingkan dengan keuntungan yang dihasilkan dari padanya. Karena bagi sebagian orang, menjadi penambang adalah salah satu cara cepat untuk menjadi kaya ataupun sekedar solusi untuk bertahan hidup dari kesulitan yang menimpa perekonomian negeri ini.
Bicara soal tambang rakyat identik dengan orang-orang Sulaweis Utara. Dimana ada tambang emas, disitu ada orang Manado.
Mereka sudah terkenal secara turun menurun mempunyai keahlian menambang emas. Bahkan bukan hanya menggali dan membuat “lubang tikus” saja. Orang Manado terkenal bisa menentukan suatu lokasi/tanah yang disinyalir mengandung Emas.
Saking hebatnya keahlian mereka dalam menentukan bahwa suatu lahan mengandung barang berharga tersebut, sampai ada anekdot bahwa orang Manado lebih hebat bila dibandingkan dengan orang barat dalam mencari lokasi tempat si emas ini bersembunyi.
Orang barat ketika mencurigai suatu lokasi mengandung logam emas atau tidaknya harus mengambil sampel tanahnya terlebih dahulu. Selanjutnya melakukan penelitian di labotarium yang memakan waktu lama.
Sedangkan orang Manado cukup dengan memakai sebuah alat bernama ” tibean” yaitu sebuah benda sebesar piring kecil, terbuat dari batok kelapa yang dialasi dengan karet. Kemudian mereka mengambil segenggam tanah yang akan ditest mengandung tidaknya emas. Lalu dicampur tanah itu dicampur sedikit air dari sungai. Setelah si tester itu mengoyang-goyangkan tanah yang sudah dicampur air tersebut. Tak berapa lama, akibat dari percampuran tanah dan air itu, maka munculah serpihan-serpihan kecil berwarna kuning mengambang diatas air. Disini kita jangan terkecoh dengan serbuk kuning tersebut bahwa itu emas. Penambang biasa menyebut benda itu adalah ” Emas gros”, serbuk itu tidak ada maknanya, meskipun terkadang kehadiran benda tersebut bisa menunjukan akan keberadaan emas di lokasi tersebut. Tapi petunjuk yang lebih afdhol kata penambang, adalah serbuk berwarna keperak-perakan yang biasa muncul bersama-sama dengan serbuk keemasan tadi. Apabila si perak tadi sudah muncul, disitu penambang bisa memperkirakan berapa kadar yang terkandung dari emas di lokasi tersebut. Hebat kan?? Singkat dan sederhana seorang penambang Manado bisa begitu mudah menemukan harta didalam gunung.
Tapi penulis sedikit kaget ketika bertemu seorang penambang bernama Pak Kaligis di lokasi tambang rakyat emas Poboya, Palu. Menurut beliau, jauh sebelum orang Sulawesi Utara mengerti cara menambang, orang Sunda Tasikmalaya telah lebih dahulu menguasai tekhnik menambang emas secara tradisional. Bahkan menurut dia lagi, konon Orang Manado belajar mencari emas dari orang Sunda!!
Ceritanya, di zaman kolonial dahulu. Bangsa Belanda membawa dan mempekerjakan orang-orang Sunda asal Tasikmalaya ke lokasi tambang di daerah Bongalaw Mongodow, Sulawesi Utara. Dan disitulah terjadi transfer ilmu antara orang-orang Sunda dan Pribumi setempat. Tapi sayang, pak Kaligis menambahkan. Orang-orang Sunda tidak mengubah cara bertambangnya. Dari dulu dan sekarang metode mereka itu-itu saja, tidak ada perubahan, sehingga akhirnya sekarang, malah orang Manado yang lebih pintar dan banyak yang berhasil dari tambang. Selain itu Orang Sunda terlalu mempercayai hal-hal yang Irasional ketika hendak menambang. Seperti menghitung bulan yang bagus untuk mulai kerja atau menunggu wangsit dari makhluk penunggu lokasi tersebut. Makanya, orang lain sudah menikmati hasil kerja, orang Sunda masih deg-degan menunggu petunjuk dari ” karuhun”.
” Harudang atuh dulur…..”

Demam Emas di Sulawesi Tengah

Sulawesi Tengah bisa dikatakan sebagai Provinsi Emas, bagaimana tidak hampir disetiap kabupaten di tanah ini terdapat banyak tambang Emas.
Titik-titik tambang tersebut telah dikelola dan dimanfaatkan baik oleh rakyat maupun perusahaan. Rincianya di Kota Palu dan Kabupaten Donggala saja sudah terdapat beberapa tempat seperti Poboya,Watutempa, Watutela dan Balaesang. Kabupaten Parigi Moutong mempunyai Sausu yang tembusanya sampai daerah Poso Pesisir sekitar desa Tambarana dan Desa Kalora. Tidak ketinggalan Kabupten Tojo Una-una yang bangga dengan Lokasi tambang Padang bulanya. Di bagian daerah utara provinsi, Kabupaten Toli-toli memiliki kecamatan Dondo sebagai penghasil emas, sedangkan Kabupaten Buol menarik para pemburu emas di Kecamatan Palele yang konon telah dieksploitasi sejak zaman Kolonial Belanda. Bahkan baru-baru ini, masyarakat Buol gempar dengan ditemukanya lokasi tambang emas di wilayah kecamatan Bukal, dilokasi perkebunan sawit PT Sonokeling Buana yang baru dibuka dan konon katanya milik pengusaha asal Ibu kota Ibu Artalita.
Penulis pernah berkunjung ke Lokasi Sonokeling tersebut, tepatnya di Gunung Belanda (begitu Masyarakat disana menyebutnya) perjalanan ke lokasi tersebut memakan waktu sekitar lima jam menaiki mobil, dengan medan yang lumayan menantang. Disepanjang jalan masih terdapat banyak binatang endemik asli Sulawesi seperti Anoa, Babi rusa, Ayam Hutan merah dan burung Alow ( Rangkok) yang melintas jalan. Saat ini lokasi penambangan tersebut baru dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar, yang mengeksploitasi logam mulia tersebut dengan mesin dompleng.
Mudah-mudahan dengan melimpahnya tambang-tambang di Provinsi Sulawesi tengah, dapat meningkatkan derajat kesejahteraan masyarakat di Bumi Tadulako tersebut

Sogili, Ikan Penambah Daya Seksual

Masakan dari hewan air ini benar-benar nikmat dan membuat ketagihan lagi, lagi, lagi dan lagi!!
Adalah Sogili begitu penduduk sebagian Pulau Sulawesi menyebutnya, atau sidat sejenis ikan yang hidup dirawa-rawa hingga sungai -sungai kecil dipedalaman Sulawesi tengah yang berbentuk seperti ular.
Ikan ini kono dipercaya dapat meningkatkan gairah seksual bagi yang mengkomsumsinya. Bagaimana tidak setelah memakan bakar sogili di celup sambal dabu-dabu lemon, badan ini terasa panas, apalagi kalau ditambah dengan minuman tradisional khas Sulawesi yaitu Saguer, benar-benar dunia ini terasa indah, hahahaha
Karena kandungan Gizinya yang tinggi, Sogili tidak disarankan untul dikomsumsi oleh penderita darah tinggi maupun stroke. Bahkan menurut istri saya, salah satu yang menyebabkan meninggalnya mertua saya yang menderita stroke setelah menyantap hidangan sogili.
Jadi, siapkah anda menyantap ikan berbentuk ular ini?!